Monday 27 January 2014

Makalah Filsfat Ilmu (Paradigma Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas Khun)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Masalah ilmu pengetahuan mungkin menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena manusia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput yang berada di tengah lapangan. Oleh karena itu, manusia yang berbudaya, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menggunakannya untuk kehidupan pribadi dan lingkungan yang telah mereka antisipasikan.
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan berpengaruh sangat besar bagi kemajuan di dunia, bahkan banyak penemuan yang terjadi di dunia timur yang baru dikembangkan pada dunia barat. Namun perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani, kemudian diakhiri pada penemuan-penemuan pada zaman kontemporer. Kemudian muncul salah satu pemikiran mengenai “peran paradigma dalam revolusi sains”, yang mengubah perspektif historis masyarakat yang mengalaminya dan perubahan itu pula yang mempengaruhi struktur buku-buku teks dan publikasi-publikasi riset pasca revolusi. Dia adalah Thomas Samuel Kuhn. Dalam bukunya tersebut banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu. Menurut Kuhn ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal dan kemudian digantikan oleh ilmu atau paradigma baru. Paradigma baru bahkan akan mengancam paradigma lama yang sebelumnya menjadi paradigma baru.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Paradigma Ilmu
Paradigma dimbil dari bahasa Inggris, paradigm. Dari bahasa Yunani, para deigma dari kata para (di samping, di sebelah), dan dekynai ( memperlihatkan; yang berarti model, contoh, arketipe, ideal). [1]
Bebarapa pengertian lain adalah :
1.      Cara memandang sesuatu.
2.      Dalam ilmu pengetahuan : Model, pola, ideal. Dari model- model ini, fenomena yang dipandang , dijelaskan.
3.      Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Paradigma merupakan   konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah: yang dalam konseptualisasi khun : menjadi wacana untuk temuan ilmiah baru.[2]

B.     Proses Perkembangan Paradigma Ilmu Pengetahuan
Berikut ini akan dibahas panjang lebar mengenai Perkembangan Ilmu pengetahuan menurut Kuhn.
Dalam pemikiran Kuhn,perkembangan sains dimulai dari tahap pre-paradigmatic stage ( fase pra-paradigma), yakni sebuah era dimana pengetahuan manusia belum memiliki seperangkat teori, metoe, dan pegangan ilmiah lain yang disebutnya dengan Paradigma. Era ini kira-kira yang dimiliki oleh masyarakat primitif. Mereka dalam menyeleaikan problem-problemnya belum menggunakan pegangan-pegangan tertentu yang merupakan hasil kreativitas para pendahulunya. Semua persoalan diselesaikannya dengan apa adanya, tanpa seperangkat teori dan metode.
Seiring dengan pergantian generasi, akhirnya muncul teori-teori, metode-metode, fakta-fakta, eksperimen-eksperimen yang disepakati bersama dan menjadi pegangan bagi aktivitas ilmiah para ilmuwan. Inilah yang oleh Kuhn disebut paradigma. Paradigma menurut Kuhn juga membantu komunitas ilmiah untuk membatasi disiplinnya dan menciptakan penemuan-penemuan, merumuskan persoalan, memilih metode yang tepat dalam menjawab persoalan, menentukan wilayah kajian, dan lain-lain. Jadi, paradima adalah sesuatu yang esensial bagi penyelidikan ilmiah (scientific inquiry)[3].
Proses munculnya suatu paradigma adalah melalui proses kompetisi antara berbagai macam teori yang pernah muncul. Hanya teori yang terbaik saja yang akan dapat diterima sebagai suatu paradigma oleh komunitas ilmiah. Walaupun begitu, sejarah membuktikan bahwa tak ada paradigma yang sempurna dalam menyelesaikan problem ilmiah. Oleh karena itu, penelitian akan tetap terus dibutuhkan. Dan suatu paradigma akan membentuk suatu komunitas ilmiah tertentu.
Suatu paradigma yang telah disepakati oleh komunitas ilmiah, karena keunggulannya dalam menyelesaikan problem ilmiah, akan menjadi fondasi bag munculnya norma science. Norma science terdiri dari suatu paradigma saja. Karena apabila terdiri dari banyak paradigma, akan berakibat tumpang tindih dan tidak menjadi normal scence lagi.
Segala aktivitas penelitian ilmiah yang taat dengan paradigma tertentu, walaupun dengan formulasi-formulasi dan berbagai pengembangan, berarti ia masih berada di bawah naungan paradigma lama. Itu artinya, ia masih belum keluar dari normal science lama, karena paradifma lama masih dipakainya. Selama komunitas ilmiah masih enganggap bahwa paradigma tertentu masih bisa menjawab problem-problem ilmiah, maka selama itu pula normal science lama masih berdiri kokoh.
Menurut Kuhn, sejarah membuktikan bahwa tidak ada suatu paradigma yang sempurna menjawab semua problem ilmiah. Problem-problem ilmiah yang tidak mampu diselesaikan oleh suatu paradgma oleh Kuhn disebut dengan “anomaly”. Jadi, menurut Kuhn “anomaly appears only againts the bacgroundthe paradigmz provided by the paradigm’. Anomali muncul karena paradigma lama tidak mampu lagi menjawab problem-problem ilmiah yang muncul belakangan. Sebagai contohnya adalah paradigma geosentris (plotemius), yang digantikan oleh paradgma heliosentris Copernicus.
Seiring dengan perkembangan fakta ilmiah, problem yang tak dapat diselesaikan oleh paradigma tu semakin menumpuk. Tumpukan anomali ini akhirnya berwujud menjadi sebuah krisis. Krisis adalah suatu fase dimana old paradigm telah sempoyonggan dalam menyelesaikan problem ilmah baru. Old normal-science dalam fase in telah berada pada posisi semakin jauh dan tak dapat didamaikan lagi (inconmmensurable) dengan problem baru. Dan krisis inilah yang akhirnya memicu penelitian selanjutnya. Penelitian-penelitian itu menghasilkan satu paradigma baru (new paradigm). Dalam proses munculnya paradigma baru itu, Kuhn menyebutkan adanya a paradigm war (peperangan paradigm). Beberapa kandidat paradigma bertempur dan saling mengalahkan. Biasanya para pendukung paradigma lama akan sulit menerima kehadiran paradigma baru. Tapi, waktu akan berpihak memenangkan paradigma baru. Akhirnya, komunitas ilmah akan dapat menentuka satu paradigma yang valid dalam menjawab problem-problem yang terakumulasi dalam krisis. Satu paradigma baru ini, akan mendasari normal science yang baru.
Proses dari normal science lama sehingga munculnya normal science baru, kemudian menyusul normal cience yang lebih baru lagi, dan seterusnya difahami oleh Kuhn sebagai proses yang tak pernah berakhir. Dan inilah yang menghasilkan perkembangan ilmiah (scientific progress). Oleh karena itu, kuhn menyatakan “ The successtive transition from one paradigm to another via revolution is the usual devlopmental pattern of mature science” (transisi yang berturut-turut dari satu paradigma ke paradigma yang lain lewat revolusi adalah pola perkembangan yang lazim dari ilmu yang telah masak).
Degan demikian, perkembangan ilmiah menurut Kuhn tidak berjalan akumulatif-revolusioner, tapi non-akumulatif-revolusioner. Alasan Kuhn adalah bahwa perubahan aradigma lama ke paradgma baru berlangsung secara radikal, yang satu mematikan yang lain.
Jadi, dalam pandangan Kuhn, kebenaran sains itu relatif dan sangat tergantung pada social factor yag berupa masyarakat ilmuwan. Sains tidak bisa memberikan kebenaran sui-generis, kebenaran objektif dan satu-satunya. Ia hanya memberikan kebenaran tentatif[4]. Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu tidak terlepas dari fakor ruang dan waktu.[5]


C.  Reson dan Kritik terhadap Kuhn
Pemikiran Kuhn yang bisa dibiilang radikal itu, mendapat tanggapan yang luas dari banyak kalangan. Sikap pro dan kontra bermunculan dari para ilmuan. Tim healy, misalnya, dari Santa Clara mengakui bahwa teori “paradigm shift” Kuhn memang benar. Semua kehidupan, keilmuan, sosial, agama, dll, terbukti mengalam “paradigm shift”. Bahkan menurut Healy, teori paradigm shift dapat dipakai untuk memahami segala persoalan hidup.
Steven Hodas, membrikan komentar yang menarik. Menurutnya, pemikiran Kuhn mengagetkan mayoritas masyarakat Amerika era 1960-an, yang meyakini keberhasilan sains dalam mencapai kebenaran final. Kuhn menggagalkan semua keyakinan ini, dengan menyatakan bahwa kebenaran sains tak lebih hanyalah a culture practice. Oleh karena itu, kebenaran sains itu relatif. Komentar Hodas ini berdekatan dengaan Weinberg, menurutnya yang menjadikan Kuhn tampak seprti seorang pahlawan bagi para filsuf, sejarawan, sosiolog, dan budayawan antikemapanan adalah kesimpulannya yang skeptis-radikal tentang kemampuan sains dalam menentukan kebenaran. Dengan demikian, sains tak ubahnya seerti demokrasi atau permainan base ball, sebuah konsensus sosial. Weinberg mengkritik Kuhn tentang incommensurable (dua paradigma yang tak bisa didamaikan) yang oleh karena itu ilmuwan tak bisa menengok kembali paradigma lama. Menurut Weinberg, Kuhn keliru dalam hal ini. Pada kenyataannya, pergeseran paradigma tidak otomatis mengakibatkan kita tak lagi bisa memahami realitas ilmiah dengan paradigma lama.
Kuhn juga mendapat kritikan dari banyak kalangan, karena tidak memberikan definisi yang tegas tentang istilah “paradigm” yang dia sebut berulang-ulang dalam bukunya. Di samping itu, ia juga dikritik karena terlalu mendramatisir pertentangan sehingga menjadi “revolusi” antara normal science lama dengan yang baru.
Kritik paling mendasar datang dari Imre Lakatos. Menurutnya, teori Kuhn tentang revolusi sains memang menakjubkan. Tetapi, sayang ia miskin metodologi normatif. Atas kriteria apa suatu paradigma bisa dianggap unggul dan berhak menjadi paradigma tunggal bagi normal science?  Kuhn ternyata hanya melemparkan persoalan ini pada centific community. Sebuah eori yang tidak tuntas. Oleh karena iu, Laktos tampil kedepan untuk menjawab problem yang disisakaan oleh Kuhn. Ia membangun teori baru melanjtkan kuhn dan menulis “Falsifcation and The methodeloghy of Scientific Research Program”.
Lepas dari pro kontra  terhadap teori Kuhn, kita tidak dapat memungkiri kebenaran teori ini dalam berbagai disiplin ilmu dan kehidupan. Walaupun teori ini muncul dari lngkungan ilmu-ilmu kealaman, bidang yang ditekuni Kuhn tapi teori ini sudah sering dipakai, disadari atau tidak, oleh para ilmuwan dalam wilayah Ilmu-ilmu sosial dan humaniora.[6]
Apapun keberatan-keberatan orang terhadap Kuhn,  tetapi Kuhn telah terlanjur menjadi sosok ilmuwan sukses yang fenomenal. Bernard Cohen telah berupaya melacak bukti-bukti sejarah tentang kebenaran teori Kuhn ini mulai abad XVII hingga XX. Hasilnya memang benar, revolusi sains memang sungguh trjadi, terutama di lingkungan natural scinces.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Paradigma merupakan   konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah: yang dalam konseptualisasi khun : menjadi wacana untuk temuan ilmiah baru. Perkembangan ilmiah menurut Kuhn tidak berjalan akumulatif-revolusioner, tapi non-akumulatif-revolusioner. Alasan Kuhn adalah bahwa perubahan aradigma lama ke paradgma baru berlangsung secara radikal, yang satu mematikan yang lain.
Jadi, dalam pandangan Kuhn, kebenaran sains itu relatif dan sangat tergantung pada social factor yag berupa masyarakat ilmuwan. Sains tidak bisa memberikan kebenaran sui-generis, kebenaran objektif dan satu-satunya. Ia hanya memberikan kebenaran tentatif. Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu tidak terlepas dari fakor ruang dan waktu.












Daftar Pustaka
Thomas Kuhn, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Bandung : Remadja Karya, 1989.
Fanani Muhyar, Pudarnya Pesona Ilmu Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.
Sofyan Ayi, Kapita Selekta Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2010.







[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Cet. III, Jakarta; Gramedia, 2002, hlm. 779
[2] Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu, Edisi 2, Cet. I , Yogyakarta: Rakesarasin,2001,hlm.177
[3] Fanani Muhyar, Pudarnya Pesona Ilmu Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007. Hal. 26

[4]  Greg Sutomo, Sains dan roblem Ketuhanan, hal.22-23
[5]  Sofyan Ayi, Kapita Selekta Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2010 hal. 158
[6] Fanani Muhyar, Pudarnya Pesona Ilmu Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007. Hal. 35


No comments:

Post a Comment