Tuesday 14 January 2014

Riwayat Hidup Aisyah binti Abu Bakar (Ummul Mukmini)


   Riwayat Hidup Aisyah r.a
Ia memiliki nama lengkap Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq Ibnu Abi Quhafah Ibn ‘Amr Ibn Ka’ab Ibnu Sa’id Taimi Ibn Marrah Ibnu Ka’ab Ibn Lu’ay.[1] Aisyah r.a lahir di Makkah pada tahun 614 M, yaitu sekitar empat atau lima tahun kenabian.[2] Ia terkenal dengan nama Aisyah r.a dan dijuluki Ash-Shiddiqah (perempuan yang benar dan lurus). Ia juga dipanggil Ummul Mukminin dan diberi kunyah Ummu Abdillah. Selain itu Rasulullah saw juga sering memanggil Aisyah r.a dengan sebutan “Bintush-Shidiq” (putri Ash-Shiddiq, yakni Abu Bakar).[3]
Ayah Aisyah r.a bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sahabat yang paling dicintai Nabi dan Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi. Abu Bakar dikenal dengan sifatnya yang pemurah, berani, jujur dan dermawan. Ia seorang tokoh Quraisy yang sangat disegani dan dihormati dikalangannya.
Ibu Aisyah r.a bernama Ummu Ruman binti Amir Al-Kinanah, termasuk wanita-wanita besar dari kalangan sahabat. Sebelumnya Ummu Ruman sudah pernah menikah. Suami pertamanya meninggal dan darinya dikaruniai dua anak yang bernama Abdullah dan Asma. Kemudian  Ia menikah dengan Abu Bakar dan dikaruniai dua orang anak yang bernama Aisyah dan Abdurrahman.[4]
Aisyah r.a tumbuh dan berkembang di lingkungan yang dijiwai oleh kebenaran islam, karena ia terlahir setelah Islam datang. Ayah dan ibunya termasuk kelompok yang pertama masuk Islam. Aisyah r.a sangat beruntung karena tidak pernah mendengar suara kekafiran dan kemusyrikan di rumahnya. Mengenai hal ini Aisyah r.a berkata : “Ketika pertama kali aku mengenal ayah-ibuku, keduanya telah memeluk Islam”[5]
Masa kecil Aisyah r.a sama seperti anak-anak lain pada umumnya. Ia suka bermain bersama teman-temannya. Boneka dan ayunan adalah permainan yang paling ia gemari.[6] Akan tetapi Aisyah r.a bukan anak kecil biasa. Ia dapat mengingat dengan baik apa yang terjadi di masa kecilnya, termasuk hadis-hadis yang ia dengar dari Rasulullah saw, bahkan ia bisa mengingat ayat al-Qur’an yang ia dengar saat ia masih kecil.[7]
Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Aisyah r.a baru berusia delapan tahun. Tapi ia dapat mengingat dengan detail tentang peristiwa hijrah. Tidak ada seorang sahabat pun yang mampu menjelaskan lebih detail dari pada penjelasan Aisyah r.a. Hal ini bisa dilihat pada penuturan Aiyah r.a yang sangat terperinci pada bab Hijrah di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[8]
Rasulullah saw menikahi Aisyah r.a setelah kepergian Khadijah. Sebelum menikah dengan Aisyah r.a, Rasulullah saw pernah bermimpi didatangi oleh malaikat yang membawa secarik kain sutra yang berisi gambar Aisyah r.a. bukhari meriwayatkan kisah itu sebagai berikut :[9]
Sebelum munikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. Aku melihat malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Ku katakan kepadanya, ‘singkaplah’. Malaikat itu pun menyingkapnya, dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu ku katakan ‘jika ini merupakan ketetapan Allah, maka Dia pasti akaan membuatnya terjadi’. Pada kesempatan lain, aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka ku katakan kepadanya, ‘singkaplah’ dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata ‘jika ini merupakan ketetapan Allah, maka Dia pasti akaan membuatnya terjadi’.”

Sebelum dipinang oleh Rasulullah saw, Aisyah r.a sudah bertunangan dengan Jabir bin Mut’im bin Adi. Akan tetapi Allah swt berkehendak lain. Allah swt telah merencanakan sebuah kebaikan. Dia memilihkan Aisyah r.a untuk menjadi istri Rasulullah saw.
Aisyah r.a menikah dengan Rasulullah saw pada usia 6 tahun. Namun Rasulullah saw tidak langsung menggaulinya, karena belum memberikan mahar padanya.[10] Ia baru hidup bersma Rasulullah saw pada usia 9 tahun, yakni pada bulan syawal tahun pertama hijriah, 3 tahun setelah pernikahannya, ketika ummat Islam telah berhijrah ke Madinah.
Sejak itu Aisyah r.a memulai kehidupan berumah tangganya bersama Rasulullah saw yang sangat ia cintai. Ia hidup bersama Rasulullah saw kurang lebih 9 tahun, karena saat Rasulullah saw wafat ia baru menginjak usia 18 tahun. Aisyah r.a  tinggal bersama dengan Rasulullah saw di sebuah kamar yang sempit di perkampungan Bani Najjar di sekeliling masjid Nabawi.[11] Rumah yang jauh dari kata sejahtera dan nyaman apalagi istana yang mewah.
Luas kamar Aisyah r.a kira-kira enam atau tujuh hasta. Dindingnya terbuat dari tanah liat. Atapnya terbuat dari pelepah daun kurma. Tidak dapat dipungkiri, kediaman Aisyah r.a bersama Rasulullah saw memang jauh dari kemewahan duniawi, tapi lewat rumah inilah terpancar sumber cahaya Ilahi bagi pemiliknya.
Aisyah r.a adalah salah satu orang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Para sahabat megetahui dan mengakui hal itu. Jika mereka hendak memberikan hadiah kepada Rasulullah saw, maka mereka akan memilih hari dimana Rasulullah saw sedang bersama Aisyah r.a. Rasulullah saw pernah ditanya seorang sahabat mengenai siapa orang yang paling beliau cintai. Beliau menjawab ‘Aisyah r.a’. kemudian sahabat menjelaskan bahwa yang ia maksud adalah dari kaum laki-laki. Maka Rasulullah saw pun menjawab ‘Ayah Aisyah r.a (Abu Bakar).[12]
Rasulullah saw mempunyai perhatian lebih dan memberikan keutamaan kepada Aisyah r.a Rasulullah bersabda :[13]
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ                                                                                            
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
 “Dari Abu Musa Al-Aasy’ari dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Banyak lelaki yang sempurna, tetapi belum ada wanita yang sempurna kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah isteri Fir’aun. Keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lain laksana keutamaan roti atas makanan-makanan lain”
 

Rasulullah saw banyak menghabiskan waktunya di samping Aisyah r.a. di sisi lain Rasulullah saw sering kali menerima wahyu pada saat bersama Aisyah r.a. ketika menderita sakit Rasulullah saw selalu bertanya di mana beliau esok hari. Beliau seakan tidak sabar menunggu gilirannya di rumah Aisyah r.a. maka istri-istri yang lain mengizinkan beliau memilih tempat beliau akan dirawat di mana pun beliau suka. Rasulullah saw pun memilih dirawat di rumah Aisyah r.a hingga akhirnya beliau wafat.[14]
Aisyah r.a beruntung karena memperoleh kehormatan untuk menjadi sahabat sekaligus istri yang paling dekat dengan Rasulullah saw sejak kecil hingga masa remajanya. Selama kurun waktu kurang lebih 9 tahun Aisyah r.a menjalani hidup di bawah bimbingan dan asuhan Rasulullah, seorang Nabi agung yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Lewat pendidikan yang ia terima dari Rasulullah saw, Aisyah r.a mampu mencapai kesempurnaan akhlak. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Aisyah r.a menjadi sosok teladan bagi muslimah sejati. Ia memiliki sifat zuhud, wara’, taat pada agama, dermawan dan murah hati serta senantiasa bersikap penuh kasih sayang kepada sesamanya.[15]
Aisyah r.a adalah sosok perempuan yang qana’ah. Ia menjalani hidup yang miskin dan bersahaja bersama Rasulullah saw. Meskipun begitu, ia tak pernah mengeluh. Bahkan ketika para istri Nabi yang lain meminta tambahan jatah pangan pada saat perbendaharaan ummat Islam dibanjiri oleh harta yang melimpah ruah, Aisyah r.a sama sekali tidak mengajukan permintaan penambahan nafkah.
Aisyah r.a hidup dalam keadaan zuhud dan qana’ah. Ia tidak memakai baju maupun perhiasan yang mewah. Makanan yang lezat atau kehidupan yang nikmat merupakan sesuau yang jauh dari kehidupan Aisyah r.a. Ia sangat berhati-hati dengan kemewahan duniawi yang melenakan. Itulah sebabnya Aisyah r.a enggan menerima kiriman hadiah untuk dirinya sendiri, baik itu berupa pakaian yang indah, mewah dan mahal harganya atau berupa makanan yang lezat citarasanya. Kehidupan Aisyah r.a yang sederhana terus berlangsug hingga ia wafat.
Selain sikap zuhudnya yang luar biasa, Aisyah r.a juga sosok yang sangat terkenal dengan kedermawanannya. Sifat ini ia warisi dari ayahnya, Abu Bakar. Keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq memang dikenal sebagai keluarga yang dermawan, seluruh hartanya diberikan untuk kepentingan dakwah Islam. Di luar itu semua, Aisyah r.a juga beruntung mendapat teladan langsung dari Rasulullah saw, orang yang sangat peduli pada kaum dhuafa.
Urwah juga megatakan bahwa Muawiyah pernah mengirim utusan yang membawa 100.000 dirham untuk Aisyah r.a, dan ia bersaksi demi Allah, tidaklah matahari terbenam pada hari itu kecuali Aisyah r.a telah membagikan harta itu seluruhnya.[16] Begitulah sikap dermawan pada diri Aisyah r.a, bahkan sampai ia lupa menyisihkan untuk dirinya sendiri.
Begitu pula dalam menjaga adab pergaulannya pun Aisyah r.a sangat berhati-hati. Aisyah r.a sangat memperhatikan hijab, terutama setelah ayat-ayat tentang hijab diturunkan. Ishaq Al’ama (seorang laki-laki tunanetra) pernah berkata:[17]
Aku mengunjungi Aisyah r.a dan aku mendengar ia memasang hijabnya yang memisahkan kami. Aku pun heran dan bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau memasan hijab dariku, padahal aku tidak bisa melihatmu?’. Aisyah menjawab keheranan ku hingga aku memahaminya, ‘Kalaupun engkau tidak bisa melihatku, tetapi aku bisa melihatmu. Jadi, harus ada hijab di antara kita.’ ”
                                                   
Adapun dalam hal ibadah, ketekunan dan kekhusyuan Aisyah r.a banyak dipengaruhi oleh ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, karena Aisyah r.a adalah orang yang paling dekat dengan beliau. Aisyah r.a lah yang banyak membawakan hadis-hadis yang disampaikan kepada orang banyak dengan cara yang mat sempurna, cermat serta jelas, utamanya bekenandengan ibadah Nabi yang khas, sampai kepada hal-hal yang sangat detail.[18]
Aisyah r.a melaksanakan ibadah, termasuk ibadah-ibadah sunnah secara konsisten dan terus menerus. Ia tidak pernah meninggalkan sholat tahajud. Jika ia tertidur atau lupa sehingga tidak melaksanakan sholat malam, maka ia akan melaksanakannya sebleum sholat subuh. Aisyah r.a juga menganjurkan kepada setiap orang agar melakukannya pada setiap malam secara istiqomah.
Aisyah r.a juga sangat gemar melakukan puasa sunnah secara beuntun.[19] Ia melalui sebagian besar harinya dengan berpuasa. Bahkan ketika kondisinya sangat lemah sampai harus disiram air, ia tetap tidak bergeming untuk membatalkan puasanya.[20] Adapun untuk pelaksanaan ibadah haji, Aisyah r.a selalu mengerjakannya setiap tahun. Tidak terhitung berapa kali ia menunaikan ibadah haji dan umrah. Aisyah r.a pernah melakukan haji bersama Rasulullah saw pada waktu haji wada’.
Aisyah r.a sangat bijak dan prihatin dalam mengatur kehidupannya. Ia selalu menjaga agar hidupnya berlangsung seperti dan dalam suasana semasa Rasulullah saw masih hidup di sampingnya. Hal tersebut tetap berlaku hingga Aisyah r.a menyusul kepergian Rasulullah saw.
Aisyah r.a wafat pada bulan Ramadhan tahun 58 H. Namun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Aisyah r.a wafat pada tahun 57 H. Sebelum wafat Aisyah r.a berpesan agar ia dikuburkan pada malam hari. Ia juga berwasiat agar dirinya tidak dikuburkan bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar di kamarnya. Ia ingin dikuburkan di Baqi’ bersama sahabat-sahabatnya, karena ia merasa tidak layak sama sekali untuk mendapatkan kehormatan itu.[21]
Aisyah r.a ummul mukminin wafat pada malam selasa tanggal 17 Ramadhan, dalam usia 66 tahun.[22] Pada waktu itu Abu Hurairah sedang menjabat sebagai gubernur sementara kota Madinah. Ia pun mengimami sholat jenazah. Kemudian jenazah Aisyah r.a dikebumikan di Baqi’ sesuai dengan wasiatnya. Kaum muslimin turut serta mengantarkan jenazahnya sampai ke pemakaman.
Pada malam Aisyah r.a wafat, para perempuan berkumpul di Baqi’, seakan-akan malam itu adalah hari raya. Tidak pernah ada orang berkumpul sebanyak itu pada suatu malam kecuali pada malam wafatnya Aisyah r.a. salah satu lentera ilmu telah padam untuk selamanya. Semua orang tenggelam dalam kesedihan seakan-akan mereka kehilangan ibu kandungnya sendiri.


[1] Muhammad Ibnu Sa’ad Ibn Mani al-Hasyimi al-Basri, Thabaqat al_kubra, Juz. VIII (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1990), hal. 46.
[2]Abdul Hamid Thamhaz, Sayyyidah Aisyah Ibu dan Pemimpin Wanita Muslimah,(Jakarta: Pustaka ‘Arafah, 2001), hal. 20.
[3] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah The True Beauty, (Jakarta: Pena, 2007), hal. 3.
[4]Muhmmad Ali Quthb, 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW, (Bandung: Mizania, 2010), hal. 51.
[5]Sulaiman An-Nadawi, Aisyah..., hal. 7.
[6] Ibid, hal. 9.
[7] HR. Bukhari No.4609 dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist
[8] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah..., hal. 10.
[9] HR. Bukhari No.6495 dalam Kitab 9 Imam Hadist (Jakarta: Lidwa Pusaka i-Software, 2010).
[10]Abdul Aziz Asy-Syinnawi, 12 Wanita Pejuang bersama Rasulullah” (Jakarta: Amzah, 2006) hal. 54.
[11] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah..., hal. 43.
           [12] HR. Bukhari No.4010 dalam  Kitab 9 Imam Hadist (Jakarta: Lidwa Pusaka i-Software, 2010).
 [13] HR. Bukhari No.4998 dalam Kitab 9 Imam Hadist ((Jakarta: Lidwa Pusaka i-Software, 2010).
[14] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah..., hal. 53.
[15] Ibid, hal.  245.
[16] Nurul ‘Aina, Belahan Jiwa Muhammad saw,( Bandung: Arkan Publishing, 2008), hal. 89.
[17] Ibid, hal. 88.
[18] Abdul Hamid Thamhaz, Sayyyidah..., hal. 215.
[19] Ibid, hal. 217.
[20] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah..., hal. 60.
[21] Ibid, hal. 236.
[22]Abdul Hamid Thamhaz, Sayyyidah..., hal. 209.

No comments:

Post a Comment