Thursday 30 January 2014

Psikologi Agama (Studi Kasus Konversi Agama pada Tunanetra)



  1. PENDAHULUAN


Potensi agama sudah dimiliki setap anak sejak mereka berada dalam kandungan. Potensi itu dapat berkembang selaaras dengan perkembangan anak tersebut asalkan didukung dengan lingkungan yang bernuansa Islami. Lingkungan Islami  seperti ini akan merangsang perkembangan potensi agama  yang terpendam. Namun, lingkungan seperti ini belum bisa menjamin seluruh potensi agama dalam diri setiap anak  tersebut dapat lahir. Hal ini harus didukung pula dengan pendidikan Islam dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dengan begitu potensi tersebut dapat memberikan arah yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. Potensi agama lahir diawali dengan rasa agama dalam diri setiap anak. Rasa agama ini harus dikristalkan agar bisa membentuk hati nurani sehingga setiap anak mampu membedakan perbuatan baik, buruk, benar maupun salah.
Rasa agama adalah nilai agama yang telah mengkristal dalam diri manusia sebagai produk hasil dari internalisasi nilai melalui:
- proses mengalami
- semenjak dini
- secara continue
- konsisten
- berkelanjutan
Dari definisi diatas dapat dipahami rasa agama  lahir melalui 5 faktor tersebut. Disini  pendidikan agama sangaat berperan dalam pembentukan proses perkembangan rasa agama.
Dari penjelasan diatas, peniliti tertarik melakukan penelitian terhadap seseorang tentang rasa agama yang mereka alami mulai dari proses pembentukannya sampai rasa agama tersebut mampu menemukan jati dirinya dan membentuk kepribadian yang berakhlak mulia. Peniliti ingin mengetahui seberapa penting peran keluarga dalam pengkristalan rasa agama anaknya dan juga ingin mengetahui seberapa dalam rasa agama  mengkristal ketika seorang anak melewati fase balita,anak-anak, remaja sampai beranjak dewasa. Karena pada dasarnya rasa agama ini pasti dimiliki setiap manusia di dunia sebagai potensi yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya yang paling sempurna agar senantiasa menhamba kepada-Nya serta menjadi khalifah bagi dirinya sendiri dan  untuk di muka bumi ini. Rasa agama ini sebagai rujukan lahirnya kepercayaan dan keberadaan Tuhan dan para malaikat serta mempercayai adanya surga dan neraka. Dengan adanya keprcayaan itu maka setiap manusia  akan senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan dalam hidupnya. Kepercayaan atau keyakinan inilah yang biasa disebut dengan iman. Ada salah satu pernyataan dari korespondensi ketika melakukan wawancara. Dia mengatakan “ Apakah Allah akan mengampuni segala dosa yang telah kuperbuat selama ini? Mengingat tidak ada satu pun ibadah yang aku lakukan untuk-Nya. Padahal, sudah banyak nikmat yang aku terima dan aku tidak mensyukurinya selama ini dan sekarang nikmat itu sudah kembali kepada Allah yang ada hanyalah cobaan berat dan aku tidak tahu apakah sanggup untuk menjalaninya?” pernyataan tadi sudah cukup mencerminkan betapa lemahnya iman yang dipunya karena seandainya dia mau mempercayai bahwa Allah Maha Pengasih maka kalimat tersebut tidak akan keluar dari mulutnya. Hal inilah yang menjadi fokus masalah dalam penelitian.
Dengan adanya penelitian, diharapkan kita bisa menyadari pentingnya pendidikan agama dalam keluarga, sekolah bahkan masyarakat karena hal tersebut dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya bahkan berkembang atau tidak berkembangnya rasa agama sesorang. Selain itu, kita mampu untuk mengukur seberapa dalam rasa agama yang sudah mengkristal dalam diri  kita sehingga kita senantiasa bisa melakukan introspeksi setiap  melakukan kesalahan sehingga kesalahan tersebut  tidak terulang kembali. Keprihatinan peniliti terhadap rendahnya rasa agama yang dimiliki setiap anak di zaman sekarang inilah yang menjadi dasar asumsi untuk melakukan penelitian.Dari penilitian ini maka akan dikaitkan antara teori dengan fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Keterkaitan tersebut akan dianalisis sehingga penelitian ini memberikan kontribusi terhadap perkembagan rasa agama.

  1. STUDI KASUS
Pada tanggal 9 junari 1987,Tito Legowo lahir ditengah keluarga yang berpendidikan. Ayah ibunya bekerja sebagai guru dan Tito hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Sejak kecil kakaknya tinggal di rumah nenek dan Tito jarang sekali bertemu dengan kakaknya. Ayah ibunya bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah di Demak dan sepulang dari sekolah mereka melanjutkan pekerjannya sebagai  pedagang demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Tito hanya bisa merasakan kenyamanan dalam keluarga saat malam tiba dan ketika itu juga orang tuanya telah lelah beraktivitas seharian. Dalam kesehariannya, Tito banyak menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman sebaya. Bahkan pendidikan agama Islam yang menjadi kewajiban orang tuanya tidak dia dapatkan seutuhnya. Orang tuanya menyerahkan kewajiban tersebut melalui guru agama yang bertugas mengajar Tito untuk mengenal Islam mulai dari mengaji, hapalan surat dan doa sehari-hari hingga belajar praktek sholat. Kegiatan ini berlangsung mulai dari kelas 5 Sekolah Dasar Kebun Agung hingga Tito memasuki gerbang SMA Negeri 1 Dempet. Keadaan ini memberikan kesempatan Tito untuk melakukan penyimpangan demi mendpatkan kesenangan. Sejak kelas 2 SD, Tito sudah bisa menikmati rokok meski tidak terlalu sering hanya sekedar mencoba-coba. Kebisaan ini berlanjut ketika Tito mulai duduk di bangku SMP Negeri 1 Dempet. Dia semakin sering merokok apalagi teman-temanya memiliki kebiasaan yang sama pula.Prilaku buruk ini semakin menjadi ketika dia beranjak remaja. Dia mulai mendekati minuman keras  dan mulai terjerumus dengan prbuatan tercela lainnya. Tito sering bolos dan prestasi belajarnya tidak dihiraukannya lagi. Niali-nilai agama yang sudah tertanam sejak dia kecilkini tidak mampu menahan kenakalan remaja yang dia jalani. Tito jarang melakukan sholat dan ibadah wajib lainnya. Meski demikian, orang tua tidak mengetahui kalu Tito sudah terperangkap dalam perbuatan yang dilarang oleh Islam. Sedikit pun tidak ada  rasa dosa ketika dia melakukan perbuatan tersebut
Hingga pada suatu malam tepat pukul 12.00 WIB, ketika Tito mengendarai motornyadalam keadaan mabuk dia mengalami kecelakaan. Untungnya kecelakaan tersebut tidak sampai merenggut nyawanya hanya saja penglihatan Tito mengalami kebutaan secara cepat dan total. Keadaan ini membuat dirinya sangat shock. Ada rasa amarah, sedih bahkan penyesalan yang sangat mendalam.Apalagi ketika dia mendengar bahwa dirinya harus menyandang status tunanetra. Hatinya kalut tak terkira. Tangis pun mulai menggambarkan rasa penyesalannya.
Sejak kejadian itu, Tito menjadi pemurung. Keluarganya pun menyadari kesalahan yang mereka lakukan. Semakin hari keluarganya semakin dekat dan tak henti-hentinya memberikan dukungan agar Tito dapat bersabar menghadapi cobaan ini. Rasa bersalah Tito semakin mendalam bahkan dia mulai meragukan betapa Maha Pengasihnya Allah kepada setiap makhluk-Nya karena dia tidak yakin kalau Allah akan mengampuni dosa-dosa yang dia lakukan. Dia menganggap kecelakaan ini sebagai hukuman yang harus dia alami untuk menembus dosa yang lalu. Kecelakaan itu terjadi  ketika Tito berusia 20 tahunn  dan tahun 2011 Tito mulai menerima pendidikan sebagai tunanetra di Panti Sosial Bina Netra di Sewon. PSBN inilah yang mulai memperkenalkan Islam yang selama ini hanya dipahami sebagai mata pelajaran saja bukan sebagai ilmu yang mampu mengembangkan rasa agama dalam dirinya yang bertugas membntuk hati nurani. Meski pun dulu  dia sudah khatam Al-Qur’an namun sesungguhnya dia masih belum bisa memahami dan mengamalkannyadalam kehidupan sehari-hari. Sekarang dia berusaha untuk beiibadah dan menjalankan dengan sunguh-sungguh meski masih ada ragu tentang kebesaran Allah untuk mengampuni dosanya. Setidaknya saat ini dia merasa nyaman dengan lingkungannya  karena lingkungan inilah yang membuatnya sadar kalau dia harus segera bertaubat kepada Allah karena di dunia ini tidak  ada kata untuk kata terlambat apalagi dalam hal bertaubat.

  1. Analisis Kasus
  1. Pengertian konversi
a.         pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata lain “conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berubah(agama). Selanjutnya, kata tersebut dipakai dalam kata inggris conversion yang mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from religion, to another).
Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama (menjadi paderi).
b.                  pengertian konversi agama menurut terminologi. Menurut pegertia ini akan dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain:
1.      Max Heirich mengatakanbahwa konversi agama adalah suatu tindakan di mana sesorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
2.      william james mengatakan, konversi agama adalah dengan kata-kata: to be converted, to be regenerated, to recieve grace, to experience religion, to gain an assurance, are so many pharases whichdenotes to the process, gradual or sudden, by which a self hitther devide, and consiouly wrong inferior and unhappy, becomes unified and consiously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities.[1]
  1. Ciri-Ciri Konversi Agama
Konversi agama yang dimaksudkan uraian diatas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri :
a.   Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
b.   Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjdi secara berproses atau secara mendadk.
c.   Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi pepindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
d.   Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.[2]
3.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konversi
a.   Faktor Intern
Perkembangan jiwa keagamaan selain ditentutukan oleh faktor ekstern juga ditentukan oleh faktor ekstern seseorang. Secara garis besar faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang.
  1. faktor Hereditas
jiwa keagamanan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konotatif.
  1. tingakt Usia
tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan, yang cenderung mempengaruhi konversi agama.hubungan antara perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak dapat dihilangkan begitu saja. Bila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, maka tentunya konversi lebih banyak terjadi paa anak-anak, mengingat ditingkat usia tersebut mereka lebih mudah menerima sugesti. Namun, pada usia bayapun masih terjadi konversi agama.
  1. kepribadian
hubungan antara unsur, yaitu unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan ini yang membentuk kepribadian.
  1. kondisi kejiwaan
pendekatan-pendekatan psikoogi kepribadian ini menginformasikan bagaimana hubungan kepribadian dengan kondisi kejiwaan manusia. Hubungan ini selanjutnya mengungkapkan bahwa ada suatu kondisi kejiwaan yang cenderung bersifat permanen pada diri manusia yang terkadang bersifat menyimpang.
  1. faktor ekstern
  1. lingkungan keluarga
keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggota-anggotanya terdiri atas ayah ibu dan anak-anak. Bagi anak-anak, keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya. Dengan demikian, kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awa bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.
  1. Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang normal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Sekolah sebagai institusi formal ikut memberi pengaruh dalam membantu perkembangan kepribadian anak.
  1. lingkungan Masyarakat
dalam uraian Wiliam James yang berhasil meneliti pengalaman berbagai tokoh yang mengalami konversi agama menyimpulkan sebagai berikut :[3]
    1. konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
    2. konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).
Berdasarkan gejala tersebut starbuck membagi konversi agama menjadi 2 yaitu,
1.      Tipe Volitional (perubahan bertahap)
2.      Tipe Self-Surrender (perubahan drastis)
Dr. Zakiah Darajat memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui lima tahap, yaitu :
1.      Masa tenang
Di saat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang, karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Trejadi sikap apriori terhadap agama.
2.      Masa ketidak tenangan
Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya.
3.      masa konversi
tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah.
4.      masa tenangdan tentram
masa tenang dan tentram yang kedua ini berada dengan tahap sebelumnya.
5.      masa ekspresi konversi
pencerminan ajaran dalam bentuk amal dan perbuatan yang serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan.
3.      Hubungan sikap Kepribadian dan sikap Keagamaan
Menurut sigmund freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem yaitu,
1.      id
mempunyai fungi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
2.      Ego
Berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan nyata.
3.      Super Ego
Tujuan super ego adalah membawa individu membawa kearah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.

Berdasarkan penjelasan teori diatas, pengalaman Tito merupakan salah satu penglaman  konversi agama karena terjadi perubahan dalam memaknai agama itu yang dianutnya. Kecelakaan tersebut membuat Tito dalam keadaan yang tidak stabil. Perlahan-lahan dia mengalami proses konversi agama yang deikemukakan oleh Dr. Zakiah Darajat. Selain itu,faktor yang mempengaruhi konversi agama tersebut sesuai dengan pengalaman yang dilalui Tito. Pengaruh lingkungan barusetelah dia mengalami kecelakaan membawanya dalam suasana hati yang tentram dan damai sehingga nilai-nilai agama yang kemarin menghilang kini mucul kembali. Konversi agama diawali dengan rasa bersalah yang mendalam sehingga mendesaknya untuk melakukan perubahan. Selain lingkungan, terkadang petunjuk dari Sang Pencipta membawa seseorang masuk dalam perubahan tersebut sesuai dengan pengalaman Tito yang mendapatkan petunjuk dari Allah berupa kecelakaan sehingga dia bisa kembali ke jalan yang benar. Tito sudah menjalani taubatnya dengan mengekspresikan konversi agamanya berupa kegiatan Islami. Dia jadi rajin menjalankan sholat dan melakukan ibadah lainnya. Keadaan ini membuatnya merasa tenang. Padahal sebelumnya pasca kecelakaan tersebut, Tito mengalami gangguan kejiwaan berupa tekanan yang tidak bisa dia hindari. Tekanan ini membuatnya harus merubah pandangan tentang kehidupan yang dia jalani.Jika dilihat dari proses terjadinya konversi agama maka dapat kita katakan bahwa tipe konversi agama seperti ini bersifat medadak atau secara dratis. Ketunanetraan yang Tito alami membuatnya segera beralih atau berpaling dari kehidupannya yang kelam. Dukungan jekyara sangat berperan dalam mempercepat terjadinya konversi agama sebagai fakto eksteren. Tingkat usia Tito juga memperngaruhi berkembangnya konversi tersebut. Mengingat ketika kecelakaan itu terjadi usia Tito sudah bisa dikatakan sebagai pria dewasa sehingga kecelakan ini bisa dihadapidengan keadaan yang cukup stabil. Karena usianya yang juga matang membawanya lebih bisa melallui konversi ini dengan tenang.





[1] Prof.Dr.H.Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta:PT Raja Grafindo, 2010, hlm.343
[2] Ibid,hlm 344
[3] Ibid,hlm.346

No comments:

Post a Comment