Wednesday, 26 April 2017

Intergrasi Islam dan Multikultural : Upapa Merawat Kemajemukan Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Berbagai keragaman ada dalam tubuh bangsa Indonesia sebagai bentuk negara yang majemuk. Hal ini dapat dilihat pada kondisi sosio-kultural maupun geografis yang beragam. Saat ini jumlah pulau yang ada di wilayah NKRI sekitar 13000 pulau dengan jumlah populasi penduduk lebih dari 200 jiwa , terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Lebih dari itu, mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam , Katolik, Kristen Protestan , Hindu , Budha , Khonghucu serta berbagai macam aliran kepercayaan . Kemajemukan dan keragaman ini terikat dalam slogan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda namun tetap satu jua.
Keberagaman masyarakat Indonesia memang dapat menjadi berkah karena menghadirkan mozaik kebudayaan yang indah dalam rangkaian Bhineka Tunggal Ika. Akan tetapi, bagai dua sisi mata uang, kepluralan itu dapat membawa efek negatif bila tak disikapi dengan benar. Fenomena ini dapat dilihat pada banyaknya konflik yang muncul karena masalah suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA). Kasus Tolikara, Tanjung Balai, dan Pilkada DKI yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama, misalnya, terkait isu SARA. Meski sejak awal kemerdekaan kita sudah berkomitmen dan menyuarakan Pancasila, masalah kebinekaan atau kini istilahnya multikulturalisme/pluralisme ternyata belum selesai. Pada tahun 2014, Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berekspresi (KBB) Komnas HAM, Jayadi Damanik mencatat 74 pengaduan pada tahun 2014, meningkat menjadi 89 aduan pada 2015, Sedangkan pada 2016 kemarin ada 97 laporan KBB.
Sebagai negara yang multikultural, Indonesia harus antisipatif dan responsif terhadap fenomena heterogenitas kebudayaan dengan sikap arif dan bijak. Faham multikulturalisme menjadi penting untuk difahami karena tanpa adanya pengertian yang baik mengenai keragaman maka kerukunan menjadi sulit diwujudkan. Salah satu agenda penting yang harus dilakukan adalah resosialisasi pemahaman agama yang baik mengenai multikulturalisme, karena sesungguhnya setiap agama memiliki kesamaan ajaran dalam menyikapi perbedaan, yakni toleransi, wabilkushus dalam Islam.
Islam adalah agama non-sentralistik dan nirkekerasan. Dalam situasi konflik komunal yang berkepanjangan inilah, Islam perlu meredefisini kehadirannya dalam konteks keragaman agama dan budaya, sekaligus tampil sebagai agama publik sekaligus agama profetik yang menjanjikan dengan perspektif khas multikulturalis. . Islam perlu memberi nuansa paradigmatik bagi konsktruksi multikulturalisme dalam merajut tenun kebangsaan di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pandangan Islam terhadap multikukturalisme?
2. Apa saja konsep multikulrural yang terdapat di dalam Al-Qur’an?
3. Bagaimana sikap muslim terhadap multikulturalisme?
4. Bagaimana upaya mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme?

C. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui bagaiamana Islam memandang multikulturalisme, konsep-konsep multikulturalisme yang terkandung dalam Al-Qur’an, bagaimana sikap muslim terhadap multikulturalisme serta upaya implementasi nilai multikultural.



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pandangan Islam terhadap Multikulturalisme
Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan masing-masing kebudayannya yang unik. Multikulturalisme juga dapat diartikn sebagai ide atau gagasan yang menghasilkan aliran yang berpandangan bahwa terdapat variasi budaya dalam kehidupan bermasyarakat dan yang terjadi adalah adanya kesetaraan budaya, sehingga antara satu budaya dengan budaya yang lainnya tidak dalam keadaan saling bertarung untuk memenangkan pertarungan.
Pada konteks Indonesia, multikulturalisme dapat difahami sebagai konsep dimana sebuah masyarakat/komunitas dapat mengakui keragaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik itu ras, suku, etnis dan agama. Sebuah konsep yang yang memberikan pemahaman bahwa sebuah bangsa yang plural adalah bangsa yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam (multikultural). Bangsa yang plural adalah bangsa dimana kelompok-kelompok etnik atau budaya yang ada dapat hidup berdampingan secara damai yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain.
Pluralitas sebagai basis multikulturalisme dalam perspektif Islam adalah sunnatullah. Islam sebagai risalah yang universal pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of humankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan agama. Pada konteks ini, setidaknya ada 2 perspektif untuk mencermati kaitan antara Islam dan multikulturalisme, yaitu normatif dan historis. 
Perspektif pertama, dapat ditela’ah dari beberapa ayat al-Qur’an al-Karim yang berbicara landasasan normatif tentang multikulturalisme, di antaranya firman Allah swt.:
“Jikalau Tuhan mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (QS. Hud :118)

Frase “jikalau Tuhan mu mengehndaki” ini dipahami oleh mayoritas ahli tafsir sebagai bentuk pengandaian yang tidak memerlukan jawaban (gaya bahasa retoris). Artinya frase ini tidak memerlukan penegasan lebih lanjut. Oleh karena itu, teks dalam surat Hud ini meniscayakan keragaman (multikulturalisme) .
Pada ayat lain yang lebih populer, Allah telah mengilustrasikan perbedaan-perbedaan yang muncul di sekitar kehidupan manusia, sebagai berikut :
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujurat : 13).

Selain memaparkan tentang tujuan keberagaman Allah juga mengaskan pada ayat tersebut bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh ras, suku, etnis dan hal lainnya melainkan tingkat ketaqwaan individu tersebutlah yang akan mengantarkannya pada derajat yang mulia di sisi Allah. Jelas bahwa tak ada satu pun orang, kelompok, atau bangsa manapun yang dapat perlakuan khusus dari Allah, semuanya diapandang sama, memliki hak yang sama.
Lebih lanjut, realitas multikulturalisme juga diintrodusir dalam sejumlah hadis Nabi SAW, di antaranya khutbah yang disampaikan oleh Nabi SAW pada hari-hari tasyriiq:
“Wahai manusia, camkanlah (oleh kalian): Sesungguhnya Tuhan kalian satu dan moyang kalian juga satu. Camkanlah (oleh kalian): Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab, begitu juga non-Arab atas Arab, tidak pula orang kulit merah atas orang hitam maupun orang hitam atas orang berkulit merah kecuali karena (factor) ketakwaan. Sudahkah aku sampaikan?!” (HR. Ahmad).

Perspektif kedua, dapat dicermati dari sejarah panjang Rasulullah SAW, yang begitu intens membangun Islam dan multikulturalisme melalui prinsip dasar nilai plural dan multikultural di tengah komunitas yang multietnis, ras, budaya dan agama selama 13 tahun di Makkah kemudian hijrah ke Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah. Kondisi masyarakat yang  multikultural tersebut telah memunculkan inspirasi Rasulullah SAW Untuk mendirikan apa yang kemudian dikenal dengan “Negara Madinah” tertuang dalam “Piagam Madinah”. Piagam Madinah, sebagaimana dikenal dalam sejarah, merupakan suatu piagam atau konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengandung nilai-nilai universal: keadilan, kebebasan, persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan sama di mata hukum
Dalam panggung historis, Islam tampil menjadi agama dan peradaban yang senantiasa bersentuhan dengan agama dan peradaban lain. Di sisi lain, Islam berhadapan dengan budaya dan peradaban masyarakat Arab Jahiliyah yang menganut kepercayaan menyembah berhala. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah dan ajaran Allah berusaha meluruskan dan membenahi akidah masyarakat Arab pada waktu itu dengan tetap menjalin hubungan baik antar mereka. Walaupun dalam perjalanan dakwahnya sering terjadi benturan dengan masyarakat Jahiliyah. Namun secara substansial, benturan dan peperangan itu hanya ditempuh sebagai alternatif terakhir setelah segala jalan damai yang dimpuh mengalami kegagalan. Dengan demikian, dapat dicermati bahwa sebenarnya Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk memusuhi, suku, bangsa, budaya dan agama lain. Bahkan sebaliknya, bahwa Islam memerintahkan manusia untuk menjalin kerjasama dan kontak yang baik terhadap siapapun untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik. 
B. Konsep-konsep Multikulturalisme dalam Al-Qur’an
Islam secara normatif telah menguraikan tentang kesetaraan dalam bermasyarakat yang tidak mendiskriminasikan kelompok lain. Pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat multikulturalis dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang sama, tidak ada yang inferior ataupun superior terhadap yang lainnya. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamiin sarat dengan ajaran yang menghargai dimensi pluralis-multikultural, yang menempatkan harkat dan martabat manusia, baik sebagai individu maupun anggota sosial. Diantara konsep-konsep Islam yang menghargai dimensi pluralis-multikultural adalah :
1. Konsep kesamaan (as-sawiyah) yang memandang manusia pada dasarnya sama derajatnya. Satu-satunya perbedaan kualitatif dan pandangan Islam adalah ketaqwaan. Islam pada esensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara sangat positif dan optimis. Menurut Islam, seluruh manusia berasal dari satu asal yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa. Meskipun nenek moyang yang sama dalam perkembangannya kemudian terpecah menjadi bersuku-suku kaum-kaum dan berbangsa-bangsa lengkap dengan segala kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan yang ada selanjutnya mendorong mereka untuk saling mengenal dan menumbuhkan apresiasi satu sama lain. Mereka harus tetap saling mendekati, saling menghormati dalam interaksi sosial. (QS. An-nisa : 21 dan Al-Hujurat : 13) inilah yang kemudian oleh Islam dijadikan dasar perspektif kesatuan umat manusia dalam universal yang pada gilirannya akan mendorong solidaritas antar manusia.
Pada waktu melakukan ibadah haji terakhir, Nabi Muhammad SAW membuat pernyataan dengan etika Global :”wahai umat manusia, semua orang berasal dari Adam, sedang Adam dari ekstrak tanah orang Arab tidak lebih mulia daripada non Arab. orang kulit putih tidak lebih mulia daripada orang kulit hitam, kecuali karena kelebihan ketakwaannya.” ( HR. Abu Hurairah ). Kemudian pada suatu saat Nabi Muhammad SAW melihat urusan jenazah, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berdiri sebagai penghormatan. diantara sahabat ada yang memberitahu, bahwa jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi. Nabi pun bersabda : “ tapi dia adalah manusia”. (HR. at-Tirmizi). Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap seseorang berdasarkan ras, agama, etnis, suku ataupun kebangsaannya, hanya ketakwaan seseorang layang membedakannya di hadapan sang pencipta.
2. Konsep keadilan ( al-’adalah ) yang membongkar budaya nepotisme dan sikap-sikap korupsi, baik dalam politik, ekonomi, hukum hak dan kewajiban, bahkan dalam praktek-praktek keagamaan. Al-Qur'an memerintahkan kita berlaku adil terhadap siapapun (QS. An-Nisa : 258), jangan sampai kebencian terhadap suatu pihak itu mendorong untuk tidak berlaku adil (QS. Al- Maidah : 28) adil harus dilakukan terhadap diri sendiri keluarga kelompok dan juga terhadap lawan.
Diceritakan bahwa sekelompok bangsawan Arab berusaha memperoleh perlakuan istimewa terhadap terpidana dari kalangan mereka, mereka berusaha menggunakan Usamah bin Zaid dalam kurung cucu angkat Nabi Muhammad SAW untuk merayu beliau agar dapat meringankan hukuman terpidana. maka Rasulullah bersabda :
“ Hai Usamah, orang-orang sebelummu dulu menjadi rusak karena mereka itu apabila ada yang mencuri dari lingkungan masyarakat yang lemah tidak berdaya mereka menegakkan hukum potong tangan itu, tapi kalau orang mencuri dari lingkungan masyarakat yang kuat, yang terhormat, mereka membiarkan pencuri bebas dari hukuman. Demi Tuhan yang menguasai aku, Andaikan Fatimah, putri ku sendiri itu mencuri maka saya, Muhammad yang akan memotong tangannya.”

  Ini artinya bahwa Islam mengajarkan untuk menegakkan keadilan kepada siapapun dan dari golongan manapun.
3. Konsep kebebasan / kemerdekaan ( al-Hurriyah ) yang memandang semua manusia pada hakikatnya hanya hamba Tuhan saja, sama sekali bukan sesama manusia. Berangkat dari konsep ini, maka manusia dalam pandangan Islam mempunyai kemerdekaan dalam memilih profesi, memilih wilayah hidup, bahkan dalam menentukan pilihan agama pun tidak dapat dipaksa (QS. Al-Baqarah : 256).
Banyak perilaku Nabi yang memberikan contoh kepada kita dalam menerapkan prinsip prinsip kebebasan. Diantaranya adalah ketika terjadi Fathul Makkah. Nabi dan para pengikutnya tidak melakukan tindakan balas dendam dan tidak boleh memaksa orang-orang kafir Quraisy untuk memeluk agama Islam. Para kepala suku masyarakat Arab di Jazirah Arab berbondong-bondong kepada Nabi dan dengan kesadaran sendiri yang mendalam, mereka menyatakan diri memeluk agama Islam.
Prinsip-prinsip kebebasan beragama ini pulalah yang telah dipraktekkan di Madinah oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau meletakkan dasar-dasar kerukunan hidup antar umat Islam, komunitas Yahudi dan komunitas non-muslim lewat Piagam Madinah yang telah disepakati oleh para wakil dari masing-masing kelompok. Piagam Madinah sebagaimana dikenal dalam sejarah, merupakan suatu piagam politik pertama di dunia yang memuat dasar-dasar toleransi dan kebebasan agama yang dalam ajaran Islam sangat dijunjung tinggi sebagai salah satu hak asasi manusia. Dengan demikian, ide tentang toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama sebenarnya memiliki akar-akar historis yang sangat kuat dalam struktur ajaran Islam dan menemukan bukti-bukti yang jelas dan nyata dalam praktek kehidupan Nabi Muhammad SAW
4. Konsep toleransi ( tasamuh ) yang merupakan sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan dengan tasamuh berarti saling mengizinkan saling memudahkan. Dengan demikian, toleransi dapat diartikan memberikan kemerdekaan kepada golongan kecil untuk menganut dan menyatakan pandangan-pandangan politik dan agamanya, memberikan hak-hak istimewa seperti yang diperoleh golongan besar.
Termasuk di dalam toleransi adalah tidak mencela atau mengolok-olok kepercayaan umat lain sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Quran Surat Al An'am ayat 108. Melalui ayat tersebut Allah melarang kita mencela Tuhan-Tuhan orang musyrik. Kita dilarang keras mengolok atau sampai merendah-rendahkan Tuhan orang lain karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah. Tentu termasuk maslahat besar bila kita dapat menahan diri dari mencela Tuhan orang kafir agar tidak berdampak pada permusuhan yang memicu terjadinya konflik. Hal ini adalah peringatan yang tegas agar tidak berbuat seperti itu supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih buruk

C. Sikap muslim terhadap Multikulturalisme
Seorang multikulturalis, menurut Islam, perlu menunjukkan sikap-sikap positif dalam konteks relasi antar manusia. Dalam menghadapi konsekuensi sosial yang ditimbulkan oleh adanya masyarakat multikultural, kita sebagai bangsa Indonesia dapat kiranya meneladani founding father negeri ini yang sedari awal telah meyadari bahwa bangsa ini terdiri dari suku, agama, dan ras yang heterogen sehingga harus ada platform yang bisa mempersatukannya.Ketika tekanan sangat kuat adari wilayah Indonesia Timur mengenai ketidaksetujuan tentang “Piagam Jakarta” yang lebih memeberikan tekanan dan pemihakan pada syariat Islam, maka demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa, maka para kia yang sering dilabeli dengan konsep tradisional justru menjadi pilar dalam penegakan persatuan dan kesatuan bangsa melalui persetujuannya agar “Piagam Jakarta” itu diubah untuk mengayomi semuanya. Oleh karena itu, ketika terdapat sekelompok orang yang akan memaksakan monokulturalitas di tengah kehidupan yang kompleks, maka mereka sesungguhnya terjebak ke dalam kubangan berfikir yang ahistoris.
Sebagai muslim dan berkebangsaan Indonesia kita telah memiliki teladan yang mengagumkan dalam hal menjunjung tinggi nilai-nilai multikulturalisme oleh karenanya, kita pun perlu menunjukkan sikap yang bersifat membangun (konstruktif) demi tercapainya Indonesia yang aman, adil dan sejahtera. Untuk mencapai hal tersebut, Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sempurna, yakni :
1. Toleransi (tasamuh), yaitu sikap menghormati terhadap setiap perbedaan baik dalam agama, budaya, suku dan ras serta pandangan-pandangan yang berbeda. Bersikap dewasa dalam merespon keragaman, mendialogkan berbagai pandangan keagamaan dan kultural tanpa diiringi tindakan pemaksaan, sehingga muncul sikap moderat yang menjamin kearifan berpikir dan bertindak, jauh dari fanatisme yang sering melegitimasi kekerasan atas nama agama ataupun kesukuan. 
2. Saling mengenal ( ta’aruf) dan berbuat baik (ikhsan) yaitu kesadaran dan keinginan untuk hidup bersama, hidup berdampingan dengan berbagai keragaman untuk memperluas hubungan sosial yang terwujud dalam sikap bekerjasama, tolong menolong, serta saling berkorban.
3. Berbaik sangka (khusnudzhon), yaitu berfikiran positif dalam bersikap, berhati-hati dalam menilai orang lain/sesuatu dan selalu mengedepankan tabayyun dalam menyelesaikan sebuah masalah. Sikap khusnudzhon ini sangat ditekankan karena tenun kebangsaan takkan terajut sempurna saat masyarakat di dalamnya saling menaruh rasa curiga.
4. Memaafkan ( afw’, maghfirah) yaitu memberi maaf, melupakan semua serangan, kejahatan, perbuatan salah dan dosa yang dilakukan orang lain secara sengaja maupun tidak sengaja. Dalam relasi antarmanusia antar agama, antarkultural, dan antaretnik ketika kelompok dominan memperlakukan minoritas secara menyakitkan, hanya pengampunan yang melampaui siklus kekerasan tanpa akhirlah yang dapat memperbaiki hubungan diantara pihak-pihak yang saling berselisih.

D.  Langkah Implementasi Nilai Multikulturalisme
Islam memandang perbedaan merupakan sunatullah yang ditetapkan Allah bagi sekalian makhluk-Nya, yang dengan perbedaan itulah kehidupan di muka bumi ini dapat berlangsung dengan dinamis dan interaktif. Melalui teks al-quran dan Hadits Islam memberikan penekanan pemahaman bahwa dalam perbedaan yang Allah ciptakan pada manusia itu sebenarnya ditunjukkan untuk menciptakan satu kesatuan dimana manusia akan dapat saling memenuhi kebutuhan dan tujuan hidupnya sehingga tidak terpecah belah apa lagi bermusuhan. Pada hal ini diperlukan upaya bersama agar keharmonisan bangsa Indonesia yang multikultural dapat terus terjaga keeksistensiannya. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, memaknai teks atau nash kitab suci beserta konteksnya. Pada hakikatnya nya firman Allah tak begitu saja diturunkan dari langit tanpa ada kejadian dan peristiwa dalam kehidupan masyarakat di bumi yang membutuhkan kehadirannya. Selalu ada sisi historis yang melatarbelakangi turunnya sebuah ayat, yang kita kenal dengan asbabun nuzul. Oleh karena itu memahami firman tidak bisa dilepaskan dari konteks historis nya agar tak berhenti pada teksnya saja. Teks harus diinterpretasikan berdasarkan konteks dari turunnya firman di sinilah sesungguhnya letak peraturan erat antara teks dengan konteks hal itu menjadi bagian dari proses pembebasan dan pengukuhan kemanusiaan universal. Melepaskan teks dari konteks historis nya mengakibatkan kita berhadapan dengan teks yang kosong sehingga tidak sepenuhnya dapat menjelaskan realitas kebenaran yang hendak diungkapkan oleh firman itu sendiri. Memahami firman hanya terbatas pada teks akan melahirkan pemahaman yang kering dan menjebak pada perdebatan linguistik semata-mata dan acapkali menjadi sebuah pemahaman yang salah hingga melahirkan faham-faham radikal.
Kedua, mempopulerkan ayat-ayat yang berbicara tentang inklusivitas, toleransi ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathoniyah. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengimbangi popularitas ayat-ayat yang disalah mengerti oleh sebagian masyarakat muslim secara sepihak pemahamannya. Cara ini perlu dilakukan dengan harapan ada pertimbangan di dalam menyampaikan informasi kebenaran kitab suci secara komprehensif dan tidak sepotong-sepotong. Tentu saja cara penyampaiannya bukan seperti perang ayat dan tanding hadits melainkan lebih kepada upaya mengkomunikasikan antar text atau nash yang suci. Selama ini kecenderungan yang muncul adalah menggarisbawahi teks atau nash yang memiliki nuansa eksklusivitas dari pada mempresentasikan secara adil dan seimbang sehingga kesan yang muncul seolah-olah teks atau nash yang suci syarat dengan nilai-nilai anti humanis dan jauh dari sikap toleran. Padahal faktanya adalah teks atau nash dipaksa mengikuti kehendak pengguna yang dimanfaatkan untuk mengintimidasi dan menjastis fikasi pihak lain maksud penjelasan tersebut yakni teks atau nash suci tidak saja pada kalangan Islam tetapi semua agama atau keyakinan mengalami problematika yang sama.
Ketigacross cultural understanding, yakni pemahaman lintas budaya konteks ini memiliki pengertian bahwa pemahaman penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Hal ini meliputi sebuah penilaian terhadap budaya budaya orang lain bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya-budaya tersebut melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
1. Indonesia memiliki masyarakat multikultural yang menyimpan kemajemukan dan keragaman dalam berbagai hal. Kepluralan tersebut sama sekali tak bertentang dengan ajaran Islam. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi ditegaskan bahwa Islam memandang manusia dengan keadaan yang sama, tak ada yang lebih superior ataupun inferior
2. Islam sebagai agama yang yang rahmatan lil ‘alamiin syarat dengan ajaran-ajaran yang menghargai dimensi pluralis-multikultural. Al- Qur’an mengajarkan konsep kesamaan, keadilan, kebebasan/kemerdekaan, dan toleransi sebagai fondasi utama dalam merajut kehidupan berbagsa yang harmoni.
3. Dalam menghadapi konsekuensi sosial yang ditimbulkan oleh adanya masyarakat multikultural, kita sebagai muslim yang baik harus mengembangkan sikap yang konstruktif demi tercapainya kehidupan yang harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun sikap-sikap yang diajarkan Islam untuk diterapkan adalah sikap toleransi, saling mengenal, berbuat baik, berprasangka baik dan memberi maaf.
4. Dalam mewujudkan kehidupan multikultural Indonesia yang harmoni diperlukan upaya bersama diantaranya dengan memaknai teks atau nash kitab suci beserta konteksnya, mempopulerkan ayat-ayat yang berbicara tentang inklusivitas, toleransi ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathoniyah serta cross cultural understanding, yakni pemahaman lintas budaya.

B. Saran
Sebagai muslim yang hidup dalam bangsa yang majemuk, sudah sepatutnya kita mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sangat menghargai perbedaan, mereferensikan diri sebagai muslim yang mulia yang menjadi teladan bagi manusia lain di sekelilingnya untuk mewujudkan kehidupan multikultural yang harmoni
Daftar Pustaka


Dermawan, Andy. 2009. Dialektika Islam dan Multikulturalisme di Indonesia : Ikhtiar Mengurai Akar Konflik. Yogyakarta : Kurnia Kalam Semesta


Imarah, Muhammad. 1999. Islam dan Pluralitas : Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan. Jakarta : Gema Insani

Mujiburrahman, 2013. Islam Multikultural : Hikmah, Tujuan dan Keanekaragaman dalam Islam. Addin, Vol.7, No. 1. Solo : IAIN Surakarta

Ismail, Faisal, 2012. Republik Bhineka Tunggal Ika : Mengurai Isu-Isu Konflik, Multukulturalisme, Agama dan Sosial Budaya. Jakarta : Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Riswanti, Yulia. 2008. Urgensi Pendidikan Islam dalam Membangun Multikulturalisme. Kependidikan Islam Vol, 3 No 2. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sa’dan, Masthuriyah. 2015. Nilai-nilai Multikulturalisme dalam Al-Qur’an & Urgensi Sikap Keberagamaan Multikulturalis untuk Masyarakat Indonesia. Toleransi : Media Komunikasi Umat Beragama, Vol.7, No.1. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Shihab, Alwi, 1998. Islam Inklusif. Bandung : Mizan

Syahril, Sulthan, 2013. Integrasi Islam dan Multikulturalisme : Perspektif Normatif dan Historis.Analisi Vol XIII, No.2. Lampung : IAIN Raden Intan Lampung

Syam , Nur dkk. 2009. Tantangan Multikulturalisme Indonesia. Yogyakarta : Kanisius


Friday, 20 January 2017

Menghafal itu Mudah dengan Metode One Day One Ayat

One Day One Ayat

Istilah ini populer sejak tahun 2010 an. One Day One Ayat dimaksudkan untuk membangkitkan spirit menghafal Al-Quran, menanamkan mindset bahwa "Menghafal itu Mudah". Kenapa cuma 1 ayat sehari? Bukankah ini lama sekali, mengingat AlQuran mempunyai lebih dari 6.000 ayat.
Ini hanya pemantik semangat. Bayangkan jika kita menawarkan orang untuk menghafal 1 hari 1 halaman, yg ada mereka langsung menolak sebelum sempat mempraktekkannya, beda hal nya jika yang kita tawarkan adalah 1 ayat, misal dalam surat An - Naba di Juz 30. Ayat ke satunya berbunyi, amma ya tatsaa aluun, atau yang lebih mudah lagi seperti surat Yaa Siin, atau Ar-Rohman dimana ayat-ayat awal nya sangat menggoda untuk cepat di hafalkan. Ingat saat berlajar naik motor? Belajar nya pelan-pelan, kalo sudah faham benar boleh ngebut. Semua serba pelan-pelan, karena kalau langsung ngebut, bisa brabe urusannya. Atau seperti olahraga, tanpa pemanasan langsung ke gerakan-gerakan ekstrim kita bisa pegal pegal, ksleo dsb, yang bisa saja hal itu membuat kita kapok untuk olahraga lagi. Tapi juga bukan disebut olahraga jika hanya pemanasan terus. Itu sebabnya kita kudu menaikkan speed, awalnya hanya satu ayat satu hari, sebulan naik jadi 2 ayat perhari, bulan kedua ketiga sudah tambah jadi 3-4 ayat perhari. Seperti halnya cerita salah seorang bapak-bapak yang ingin menghafal Surat Yaasiin. Surat Yaa Siin terdiri dari 83 ayat. Kalau menggunakan metode ODOA, bapak tersebut akan hafal surat Yaa Siin dihari ke 83, namun istimewanya bapak ini hafal di hari ke 43. Beliau mengatakan "Saat pertama kali saya menghafal surat Yaa Siin saya melakukannya dengan One Day One Ayat, tapi ternyata saya menghatamkan hafalan saya bukan 83 hari tapi hanya 43 hari, karena ditengah perjalanan menghafal saya merasa sangat rugi jika satu hari hanya menghafal satu ayat, akhirnya saya menaikkan target hafalan saya, dan begitulah hasilnya".
Begitulah menghafal Al-Quran, dimulai dengan kesiapan kemampuan kita yang paling mudah. Diantaranya dengan metode One Day One Ayat. Jangan tergoda dan terburu-buru menaikkan kecepatan bila diri belum benar-benar siap. Karena apabila semangat menaikkan kecepatan hafalan tidak diimbangi dengan kesiapan diri bisa menyebabkan frustasi tidak bisa mencapai target hafalan yang banyak, lalu kemudian bermalas-malasan karena target demi target tidak tercapai lalu akhirnya berhenti menghafal. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh karenanya, mantapkan diri, jaga konsistensi dan kedisiplinan dalam menghafal Al-Quran. Insya Allah, setalah kita konsisten, kemampuan menghafal kita nail dengan sendirinya. Lalu kita tetap terus memohon kepada Allah agar semangat kita terus terjaga dalam mencintai kalam-Nya. Aamiin.

Monday, 26 December 2016

Catatan Perpisahan

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.20, aku bergegas memesan gojek untuk pergi mengajar. Aku berjanji akan datang pukul 08.30, 10 menit perjalanan cukup.
Hari ini hari terakhir aku mengajar di desa Babadan, Banguntapan. Mamang gojek telah sampai mengantarkanku di tempat tujuan. Aku langsung berlari menuju mushalla khawatir terlambat. Dan, krek.....(aku membuka pintu mushola dengan cepat)
"Yah.... Mbak Maria kok datengnya cepat sih, ketahuan deh" seru mereka dengan wajah kecewa.
Aku juga kaget melihat sisi ruangan di mushola telah terpasang hiasan hiasan dari kertas crap dan beberapa balon warna warni yang tergantung di dinding mushola.
Oh I see, rupanya mereka sedang mempersiapkan sebuah kejutan namun gagal karena aku lebih dulu datang sebelum dekorasi selesai. Karena aku terlanjur mengetahuinya, akhirnya mereka mengajak ku foto bersama saja di dinding dekorasi yang tak selesai.

Ah... anak-anak ini membuat perasaanku semakin sulit untuk berpisah.Tak cukup disitu, mereka juga memberikanku sebuah bingkisan yang baru aku tau isinya setelah sampai dirumah. Mereka memberiku jilbab pink dan bros pink (mereka tau saja warna kesukaanku). 
Dalam kado itu mereka juga menuliskan surat surat yang membuat haru. Aih.... anak anak terimakasih sudah mencintai Kaka, mencintai ilmu yang sudah diajarkan. Terimakasih juga telah berjanji untuk mengazzamkan diri untuk terus belajar AlQuran. Semoga menjadi penyelamat di yaumul mizan.
Duh Gusti, anak kecil juga pandai mengiris-iris perasaan. Perasaan perasaan seperti inilah yang membuatku tak pernah menyesal menjadi seorang guru.

Thursday, 22 December 2016

Selamat Hari Ibu. Ada Surga di Rumahmu


Ini ibuku.... ibu yang luar biasa seperti ibu-ibu lainnya
Aku memanggilnya Mama
Mama yang selalu bolak balik menelpon hanya untuk bertanya "mau dimasakkan apa nak?" saat aku bercerita sebentar lagi akan pulang kampung.Mama yang selalu memarahi adikku saat menggangguku tidur bila aku pulang
Mama yang selalu mengingatkanku untuk tidur saat menemuiku masih sibuk dengan handphone dan laptopku di tengah malam. Mama yang selalu menaruh selimut dan obat nyamuk saat mengetahui aku sudah tertidur pulas di ruang tengah. Mama yang selalu sigab menjadi alarm terbaik saat aku meminta di bangunkan, meminta diingatkan untuk mengerjakan ini dan itu.

Mama yang saat aku jauh selalu rutin mendoakanku. "Mama neh bedoa tarus siang malam supaya Opah sehat, banyak rejeki, dijaga Allah dari bahaya, jadi orang sukses"
Ah... aku selalu bergetar mendengar Ia mengulang doa-doanya pada Tuhan di hadapanku.
Aku curiga.... jangan-jangan kemudahan urusanku, kemudahanku mencapai impian-impianku itu semua karena doa-doa panjang seusai sholatnya.

Mama... kalau saja kau tau, aku rindu mama, setiap hari... Berharap suatu hari bisa benar-benar berada di sisi Mama, menjaga Mama dan hidup bersama di sisa usia kita. Memenuhi keinginan-keinginan Mama (termasuk keinginan Mama untuk menimang cucu, ini keinginan yang terus Mama katakan berulang-ulang saat menelponku)

Ah Mama, betapa beruntungnya aku masih memilikimu. Tuhan menjanjikan surga bila aku berbakti padamu.

Surga itu begitu dekat. Tapi, mengapa kita sibuk mengejar yang jauh? Surga itu ada di rumahmu. Ada di bawah telapak kaki Ibumu.

Doa Ibu menjadi washilah keselamatan dan keberkahan dalam hidup. Beruntunglah jika kita masih punya Ibu. Do'anya yang menggetarkan Arsy, membuat Allah ridho menurunkan segala kebaikan pada kita anaknya.

Ibu, aku mencintaimu seperti lautan yang mencintai airnya, tak pernah ingin berkurang sedikitpun.
Ibu celakalah aku, bila tak kutemukan surga di kaki mu.

Selamat Hari Ibu untuk Mamaku Tercinta.
Terimakasih atas cinta yang tulus dan doa yang tak pernah putus. 

Friday, 25 November 2016

Manisnya Hidup Baru Terasa Setelah Pahitnya Berjuang



“Manisnya Hidup Baru Terasa Setelah Pahitnya Berjuang “
By
Maria Ulfah PK88



Ada alasan kenapa Tuhan menempatkan kita pada situasi yang sulit, terus menghadapkan kita pada permasalahan yang tak berkesudahan. Biasanya, karena Dia ingin kita memiliki kompetensi baru, lalu meningkatkan potensi diri di area itu. Jadi kalau sudah berhasil, di masa depan tidak akan dihadapkan dengan masalah yang sama, ganti dengan kesulitan yang baru, permasalahan  yang baru, ganti dengan pertarungan hidup yang baru. Sungguh bukan perkara mudah, tapi bukankah ini artinya Tuhan memilih kita untuk naik derajatnya? Kuatkan dirimu. Latihlah dirimu menjadi Pejuang. Semua kesulitan yang kita hadapi sekarang dan semua kekurangan serta keterbatasan yang dimiliki ini bisa menjadi pembeda kita diantara yang lain nanti di masa depan. Percaya atau tidak, aku justru seringkali bersyukur atas segala kesulitan yang Tuhan berikan, diantaranya kesulitan dalam menempuh pendidikan karena dengan pahitnya proses melewati masa sulit itu menjadikan keberhasilan terasa kian manis. Berikut ceritanya.
“Anak Miskin dilarang Sekolah”  itulah yang aku rasakan sejak kecil. Ayah meninggal saat aku berusia 7 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Kehidupan berbalik begitu saja saat ayah meninggal, karena ia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga. Ibu hanya seorang IRT yang tak lulus SD, tentu sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah ditinggal ayah, kehidupan ekonomi kami sangat sulit. Ibu juga bukan seorang yang mengerti pendidikan sehingga ia tak terlalu bersemangat menyekolahkan aku. Aku terancam putus sekolah sejak SD, namun nasihat mendiang ayah mengenai pentingnya pendidikan selalu menjadi motivasi besarku untuk dapat bersekolah setinggi-tngginya. Aku meyakini, bahwa dengan modal pendidikanlah kelak aku dapat merubah nasib keluargaku.
Aku tahu aku tak akan bisa sekolah di SMP karena gaji ibu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Aku menyadarinya dan aku tak ingin menyerah begitu saja. Aku memilih untuk menjual es lilin dan dagangan tetangga agar mendapat upah yang bisa ku tabung untuk membayar uang masuk SMP. Alhasil akupun bisa masuk SMP. Perjuangan tak berhenti di situ, saat aku menginjak kelas 3 SMP, aku kembali harus berfikir keras untuk melanjutkan sekolahku. Kelulusanpun tiba, aku tak kunjung melihat peluang untuk sekolah. Aku mengadu kepada Allah. “Mintalah kepadaku maka akan ku kabulkan” begitu firman-Nya. Allah membukakan jalannya, ia tak memberikanku segepok uang, namun ia memberikanku sebuah keberanian dan azzam yang kuat untuk tetap meneruskan mimpiku untuk bersekolah.
Aku menjual antingku, satu-satunya perhiasan yang kumilki untuk membeli formulir sekolah. Akupun mengikuti tes masuk dan dinyatakan lolos. Kali ini, masalahnya lebih besar dari sekedar harga formulir. Kini, aku harus membayar 1,3jt untuk biaya masuk. Saat itu, 50 ribupun aku tak punya, apalagi sebayak itu. Aku memberanikan diri untuk menghadap ketua remaja masjid untuk memberikanku uang arisan. Kami memang punya arisan mingguan, tiap minggunya membayar 5000. Alhamdulillah ketua dan anggota lainnya setuju agar aku saja yang mendapat giliran menang arisan minggu ini, karena aku harus segera membayar uang sekolahku. Saat itu jumlahnya hanya Rp. 650.000. Tentu masih kurang setengahnya. Rejeki tak disangka-sangka, tetanggaku memberiku uang Rp. 700.000,maka akhirnya aku dapat melunasi tagihan itu.
Aku dianggap cukup gila bagi orang-orang di lingkunganku bahkan keluargaku. Tak banyak orang yang mensupportku kecuali Kakek. Dialah orang yang paling mempercayai kemampuanku. Sejak Aliyah aku aktif dalam berbagai kegiatan dan perlombaan. Saat menang lomba, aku selalu menabung karena hal yang sama pasti akan terjadi saat aku akan kuliah nanti.
Tahun 2010, akupun lulus dari Aliyah. Ibu senang sekali karena tak menyangka aku akan bisa sekolah sejauh ini. Ia menangis haru dan mengatakan “mulai hari ini ibu akan selalu mendukungmu, ibu percaya padamu”. Hatiku terenyuh, tak ada hal yang lebih membahagiakan selain ridho seorang ibu. Bermodalkan ridho Ibu dan tabungan semasa SMA aku mendaftar kuliah di Jogja. Meski kali ini tantangannya lebih berdarah-darah dari sebelumnya, aku tetap menjalaninya. Saat tahun awal perkuliahanku, ibu sering menelponku dengan derai tangis sambil bercerita bahwa tetangga di kampung sering bergunjing tentang diriku. Aku yang mungkin saja “melacurkan diri” untuk mengisi perut dan membayar ongkos pendidikanku. Hatiku benar-benar ngilu, tapi sungguh aku tak akan menyerah.
Kawan untuk sebuah kesuksesan tak ada yang benar-benar menyenangkan. Kita tentu harus menyiapkan mental sekuat baja, hati seluas samudera. Kita boleh kesal dengan keadaan yang serba kurang serta omongan yang sering direndahkan, Tapi, setelah itu kita harus bisa bangkit dan berusaha perbaiki keadaan dan menjadikannya kekuatan untuk bertahan.
Saat kuliah S1 dulu, untuk bisa bertahan hidup dan membayar kuliah aku mengajar privat, berjualan buku, jadi guru ngaji bahkan menjadi distributor baju dari Jogja ke Kalimantan. Segala peluang usaha kucoba untuk bertahan hidup dan Alhamdulillah sesekali bisa mentransfer uang untuk ibu di kampung. Ditengah kesibukan organisasi dan bekerja aku tetap focus kuliah. Aku selalu mengingat tujuan utamaku. Selain itu aku selalu bermabisi ingin cepat lulus karena ingin sesegera mungkin membantu ibu. Alhamdulillah, berkat ridho ibu aku lulus dengan IPK 3,66 dengan masa studi 3 tahun 4 bulan 29 hari. Tangis haru penuh rasa syukur saat ibu bisa hadir dan melihat aku wisuda. Ia memelukku haru penuh bangga. Pengorbanan terbayar sudah.
S1 telah usai, apa perjuangan selanjutnya? Sejak SMA aku ingin sekali bisa kuliah ke luar negeri. Aku tak menyia-nyiakannya saat negara ku tercinta menyatakan diri siap memfasilitasi pendidikan anak bangsa lewat beasiswa LPDP. Akupun mendaftar dan melewati berbagai macam proses seleksinya hingga lulus dan bertemu dengan manusia luar biasa lainnya di PK 88 “Metamorfosa”. Segala puji bagi Allah. Perjuangan ini terasa amat manis setelah melewati kerasnya perjuangan. Tuhan terimakasih telah menjaga semangat juang ini tetap membara. Perjalanan ke depan masih panjang. Tugasku selanjutnya adalah memastikan bangsa Indonesia tak keliru menitipkan pundi rupiahnya padaku. Semoga ilmu yang didapat selama studi menjadi jalan bagiku untuk ikut turun tangan membangun Indonesia tercinta. Aamiin.
Jika ada yang bertanya mengapa begitu berambisi S2? Aku ingin menjadi manusia yang banyak member manfaat. Memangnya S1 tidak banyak memberi manfaat? (pertanyaan ini sebelumnya sudah ditanyakan oleh interviewer saat wawancara LPDP). Baiklah akan ku jawab. Aku meyakini sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa “jika kita ingin member lebih maka kita juga harus memiliki lebih”. Kawan, waktu kita singgah di dunia ini benar-benar terbatas. Jadilah sesuatu yang baik dan banyak memberi manfaat. Yuk, kita buat sebuah cerita yang berbeda, sebuah karya yang positif, serta bermanfaat bagi banyak orang di sekeliling kita.

Monday, 31 October 2016

Sekelumit Cerita Menaklukkan Beasiswa LPDP

Awardee LPDP. Will you be the next???


         Hai scholarship hunters.... kalian pasti sudah tahu apa itu Beasiswa LPDP. Beasiswa paling bergengsi di bumi Indonesia kita tercinta yang terkenal dengan ke profesionalan, integritasnya, berisi orang-orang kece dan kelancaran pencairan dananya..hehe. Kali ini aku akan membagikan pengalaman suka dan duka meraih beasiswa ini.
          LPDP banyak peminatnya tapi sedikit yang berhasil? Ya. LPDP memilih orang-orang yang berjiwa pemimpin? Ya. LPDP hanya menerima orang-orang pintar yang memiliki skor TOEFL atau IELTS yang tinggi? Gak juga.. Buat kalian yang takut mendaftar LPDP karena kemampuan bahasa Inggris yang masih "tiarap" jangan khawatir, karena LPDP itu baik banget. LPDP memberikan kesempatan pada anak bangsa yang tinggal di daerah 3T, mantan alumni bidikmisi, anak miskin berprestasi, atau anak bangsa yang memiliki prestasi dan mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional dan internasional. Namanya beasiswa Afirmasi. Kalian boleh cek di web LPDP. Beasiswa afirmasi ini memungkinkan orang-orang seperti kita (termasuk saya) yang ingin mengikuti beasiswa ini namun tidak memiliki skor TOEFL atau IELTS yang mencukupi. Lewat jalur afirmasi ini, LPDP memperbolehkan kita mendaftar hanya dengan skor TOEFL ITP 400. Sungguh baik hati bukan?

Ok... Inilah ceritaku saat mengikuti beasiswa LPDP


“Kemanapun engkau menghadap, di sanalah wajah Allah. Milik-Nyalah segala yang terbentang dari timur ke barat. Wahai manusia, atas segala hajatmu kembalilah pada-Nya”.
Inilah yang menjadi sumber kekuatanku mendaftar beasiswa LPDP. Aku bukanlah seorang yang hebat, berpengalaman luas apalagi memiliki kecakapan bahasa asing yang bagus. Saat mendaftar LPDP aku menggunakan sertifikat  TOEFL ITP dengan skor hanya 463. Sederet angka yang bisa saja ditertawakan saat tahu bahwa akupun mendaftar untuk tujuan luar negeri terlebih untuk University of Melbourne, Australia yang mensyaratkan skor IELTS 7.0 untuk fakultas pendidikannya. It’s OK. Mari bayar mimpi itu dengan do’a disertai perjuangan yang tak kenal menyerah. Yakinlah, tak ada hasil yang menipu usaha,
Oh ya, aku baru lulus seleksi wawancara setelah percobaan keduaku. Sebelumnya aku mendaftar di University College London, UK. Namun Tuhan belum berkehendak. Aku gagal dalam percobaan pertama itu. Masih jelas dalam ingatanku saat itu aku menerima email pada 10 Juni 2016 pukul 20.00. “Pengumuman Ketidak lulusanSeleksi…..” begitulah kira-kira judul email LPDP yang masuk di inboxku. FYI, bagi orang-orang yang sangat mengaharapkan LPDP, judul email semacam ini secara otomatis membuat jantung serasa berhenti berdetak. Serius, ini tak berlebihan. Dunia tetiba menjadi suram saat aku membaca lebih dalam email tersebut. Bagaimana tidak, aku begitu berharap bisa segera menjadi awardee, aku bahkan menolak beberapa panggilan kerja dengan sallary yang cukup menjanjikan hanya karena tidak ingin resign dari pekerjaan jika di tengah perjalanan LPDP menyatakan menerima pinanganku. Tentu kalian tahu bagaimana hancurnya hatiku. Satu malam penuh aku tak berhenti menangis. Apa yang salah? Apa yang kurang? Aku mereka ulang ingatanku saat hari wawancara. Aku menyadari aku begitu lemah pada bagian rencana studi. Konon katanya, kejelasan rencana studi adalah kunci utama lulus LPDP.
Satu malam penuh meluapkan segala kekecewaan. Pagi-pagi kubuka akun line ku. Sudah ratusan chat dari grup line “LPDP Seleksi Subtansi Jogja” menunggu untuk dibaca. Aku membaca dengan seksama. Ya Tuhan, aku tak sendiri. Ada banyak yang senasib denganku. Satu hal yang menarik, anak-anak hebat ini tak menangisi kegagalannya berlebihan, sibuk menyalahkan diri sendiri ataupun keadaan, yang mereka sampaikan dalam chatnya adalah refleksi-refleksi dan spirit untuk mempersiapkan diri lebih baik lagi. Tetiba menjadi malu, apa yang sudah kulakukan untuk menguatkan diriku sendiri. Pagi itu aku kembali menemukan semangatku. Hari itu aku bertekad akan mendaftar kembali. Ku cek kembali dokumen-dokumenku. Melakukan riset ulang tentang universitas tujuan dan jurusan yang dipilih. Hitungan H+3 setelah pengumuman ketidaklulusan aku telah mensubmit pendaftaran kembali. Sungguh bukan karena terburu-buru, hanya saja dokumen-dokumenku hampir habis masa berlakunya. Saat itu aku sedang pengangguran, bukan hal yang menyenangkan jika harus menghabiskan uang ratusan ribu untuk tes kesehatan kembali. Saat mendaftar kembali aku cukup ragu, apakah akan memilih LN lagi, atau memilih DN saja. Saat itu, setiap orang yang ku ajak diskusi menyarankanku untuk memilih DN saja, karena kemungkinan lulusnya lebih besar, Tentu saja jiwa optimisku berontak, Aku tak pernah mentoleransi diriku menyerah terhadap sesuatu hanya karena ia terlihat sulit untuk di taklukkan. Aku teringat pesan Mas Budi Waluyo bahwa tidak ada jaminan keberhasilan yang pasti saat kita memperjuangkan sesuatu, namun segala kekhawatiran akan gagal jangan menjadi kebiasaan bagi kita untuk tak berjuang. Aku mantap memilih LN dengan segala konsekuensinya.
Tibalah saat pengumuman administrasi, aku “LULUS”. Kali ini aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Kalau aku gagal lagi, maka itu artinya kesempatan menjadi awardee LPDP tertutup sudah. Persiapan-persiapan mulai kulakuan. Aku mulai berlatih LGD, EOTS dan Wawancara bersama teman-teman lainnya yang lolos seleksi administrasi. Salah satu keuntungan latihan bersama adalah kita bisa memotivasi diri agar berusaha lebih keras lagi sebagaimana yang teman-teman lain lakukan. Seringkali aku merasa telah berusaha dengan maksimal. Aku mengukur usahaku dengan ukuran diriku sendiri. Padahal mungkin saja semua orang sedang berjalan menuju mimpi yang sama, yakni awardee LPDP. Saat aku berjalan, mereka bisa saja berlari, saat aku berlari mereka bisa saja berlari lebih cepat, satu hal yang pasti bahwa yang bergerak tentu saja akan mengalahkan yang berdiam diri.
Hari H seleksi pun tiba. Hari pertama aku mendapat jadwal seleksi Essay dan LGD. Seleksi yang paling menegangkan bagiku adalah LGD. Bagi yang memilih tujuan studi LN, diwajibkan LGD dalam bahasa Inggris. Terbayangkan bagaimana kemampuan speaking skor 463? Benar-benar speaking Inggris ala Indonesia, translate perkata. Bahkan aku tak tahu apa bahasa Inggrisnya “macet”. OMG, cukup memalukan, but, take it’s easy. Dunia belum kiamat hanya karena kamu lupa vocab saat LGD.  Di group LGD ku hanya aku yang afirmasi, yang lain sudah bersertifikat IELTS 7 dan memiliki LoA. Saat-saat seperti inilah mental mu diuji. Saat kita merasa inferior dibanding orang-orang disekitar. Kalau kita terus berfikir bahwa kita ada di bawah mereka, maka siapapun dapat membaca rasa rendah diri itu lewat suara dan gesture kita, dan itu fatal. LPDP tidak mencari pemuda impoten dalam hal kepercayaan diri. Tetaplah fokus pada nilai plus dirimu.
Untuk persiapan wawancara aku telah menyiapkan diri dengan berbagai list pertanyaan serta jawabannya dalam bahasa Inggris. Aku juga membuat alat peraga untuk menjelaskan rencana hidupku di masa depan. Begini modelnya.... benar benar alakadarnya.



Tak lupa memprint kurikulum pendidikan di UPI, UNJ dan UNY, jaga-jaga saja jika disuruh pindah dr LN ke DN, aku sudah punya jurus ampuh menolaknya.hehe. Tak lupa meminta doa Ibunda tercinta, karena aku meyakini bahwa do’a Ibu tak berhijab dengan Tuhan.
Hari itu, aku memasuki ruangan wawancara sambil mendo’a ke langit. “Tuhan ijinkan aku melalui ini dengan baik”. Wawancara mengalir begitu saja meski bahasa Inggrisku sangat terbatas. Persiapanku membuat alat peraga tak sia-sia. Saat aku menunjukkannya, mereka terlihat sangat antusias, bahkan salah satu pewawancara mengeluarkan HP nya untuk mengabadikan diriku yang sedang mempresentasikan rencana masa depanku dengan alat peraga tersebut. Mereka menggali lebih dalam tentang perjalanan hidup, prestasi dan aktivitas sosialku. Bahkan salah satu dari pewawancara sampai mengorek-ngorek facebook dan blogku. Namun semuanya terlewati dengan baik. Kini tinggal do’a. Saat ikhtiar telah maksimal maka do’alah yang menjadi penyempurnanya. Do’a menyodok langit di tiap malamnya dengan setulus-tulus permohonan
Finally, “Pengumuman Kelulusan…..” itulah email yang ku terima setelah menunggu satu bulan lamanya. Segala puji bagi Allah. Perjuangan ini terasa amat manis setelah melewati kerasnya perjuangan dan pahitnya kegagalan. Tuhan terimakasih telah menjaga semangat juang ini tetap membara. Perjalanan ke depan masih panjang. Tugasku selanjutnya adalah memastikan bangsa Indonesia tak keliru menitipkan pundi rupiahnya padaku. Semoga ilmu yang didapat selama studi menjadi jalan bagiku untuk ikut turun tangan membangun Indonesia tercinta. Aamiin.